Rabu, 29 Mei 2013

OMG...Red cheeks

Assalamu'alaikum wr wb.. Annyeong...

Post kali ini bukan FF, biarin ff uda numpuk di draftbox. Karena saat ini, detik ini, saya lagi galau *selanjutnya hening

Well, Siang ini, saya dikejutkan dengan sebuah kalimat mematikan yang diawali proses peningkatan kinerja hormon adrenalin selanjutnya menaikkan detak jantung dan mengurangi pasokan oksigen hingga terjadilah vasodilation (pelebaran pembuluh darah) di muka saya yang putih pucat ini dan tak tanggung-tanggung bikin kemerahan sepenuhnya di area wajah saya ini *pengen nyebur ke sungai Han deh,bareng Yesung boleh? *injekk

"Waeeeee..pipinya memerah...eciyeee..."

Pernah denger kalimat itu?

Hm...kayak pernah..dimana yaa...dimana..dimana..kemana... *tebar sarimi isi dua -__-

Yaah,sudahlah lupakan alasan saya ngetik postingan sesat ini. Tapi yang membuat saya tertarik disini adalah bagaimana koq bisa begitu????
Dan dimulailah pencarian saya dibantu mesin pencari terbaik di dunia versi onGsop *apadeh* dan berikut hasil wawancara saya dengan si empunya,biang keladi munculnya warna merah dimuka ini. Sebut saja Red Face (bukan arti sebenarnya,bukan korban dan bukan tersangka,hanya cameo .__.)

Me : Hai Red Face (RF)?
RF : Ya?
Me : Jadi,sebenarnya kamu itu apa?
RF : Aku...emosi mu,aku rasa takutmu. Aku yang memaksa kinerja otakmu membuat pipi mu merah
Aku menjadi salah satu respons yang tidak biasa dari pembuluh darah vena. Karena pada daerah lain di tubuh, vena tidak melakukan hal ini ketika adrenalin dilepaskan. Hormon ini memiliki pengaruh yang kecil atau tidak sama sekali terhadap pembuluh darah vena. Umumnya ada pembuluh darah lain yang lebih responsif terhadap adrenalin.
Me : Aishhh!!!
RF : Bisa kalau kamu kendalikan. Reveal everything. Tanpa menutup-nutupi apapun yang kamu ucapkan. Jangan bohongi diri sendiri, jadilah pipi mu yang malu pada dirimu sendiri
Me : Jadi sebaiknya?
RF : Bersikap bijaklah. Jujur. Kalau ga memungkinkan reveal everything atau pretend nothing happens, mending akhiri pembicaraan.
RF : Tapi kalau masih kuat, coba tenangkan diri. Jangan panik. Bernafas seperti biasa, normalkan, ikuti alunan musik, kalau ga lagi ada musik, senandung lirih juga boleh. Pokoknya buat diri kamu serileks mungkin, jatuhkan bahu, longgarkan perut. Streching diatas matrass atau lari ditempat *yang terakhir ga recommended
Me : Oooo
RF : Lebih baik jangan menyangkal dahulu, ikuti aliran pembicaraan. Stay cool bro.Terima saja. Nanti kalo efek 'panas' di muka udah agak hilang, baru buka suara
Me : Ooooo
RF : Yang perlu disadari, malu termasuk salah satu cabang iman loh. Jadi ga masalah. Allah yang menciptakan rasa malu dan wajah merah juga. Sudah sepaket sama badan kamu.

So, guys, udah dapet something dari dialog diatas?Masa' belum?

Summary nya :
Muka merah (karena malu) diawali dari rasa emosi yang meningkat (panik) trus meningkatkan hormon adrenalin. Trus jantung berpacu, nafas terhambat, pori-pori wajah melebar, banyak darah mengalir ke wajah, alhasil bikin merah noh wajah orang yang lagi malu.
Cara ngilanginnya :
- Mulai dari akarnya. Tekan emosi, hilangkan pikiran aneh-aneh. Coba normalkan detak jantung anda.
- Kalau susah, coba cari pengalihan. Renggangkan tubuh anda.
- Kalau masih 'panas' aja dimuka, yaudah, diam dan akhiri topik pembicaraan
Saya termasuk gadis pemalu *sodorin kantung muntah* jadi memang sering sekali tiba-tiba merah. Meski sebenarnya tidak ada apa-apa. Memang hal yang saya dengar itu seharusnya tidak berdampak. Gak tau kenapa. Tapi tenang, meski ada cara untuk mengendalikan ekspresi merona ini yakni dengan memotong saraf kecil di tulang melalui bedah endothoracic sympathectomy, saya sama sekali tidak tertarik. XD

Seenggaknya, ketika kita menemui orang lain yang berwajah merah karena malu, saya himbau agar jangan malah membuatnya semakin malu. Kalau bisa malah diselamatkan. Toh pas kita malu juga rasanya pengen nyobek-nyobek muka kan >,<

That's all ngoceh gaje saya. Muga-muga bermanfaat walau udah tau dari blog sebelah. Toh ini juga bukan ilmu pinter, cukup logika aja sih.


Sources : terselubung.blogspot.com ; berbagiahal.com ; tnol.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar